Beranda

Selamat Datang di

KONSEP PEMIKIRAN PROF. DR. HARUN NASUTION TENTANG:
WAHYU, AKAL, DAN ILMU PENGETAHUAN
Disusun oleh :
Siti Ella Yuliana

PENDAHULUAN
A. Pengantar Topik
Memahami realitas berdasarkan teks/nash al- Qur’an yang mengikuti tafsiran yang dibuat oleh para pendahulu (salafi) pada abad ke-7 yang dijuluki salafussholih, juga menjadikan tidak adanya pemisah atau bertolak belakang antara nash al-Qur’an dan akal pikiran manusia yang memahami realitas-realitas kehidupan secara moderat sebagaimana paham ini mempercayai antara al-Qur’an dan akal pikiran itu keduanya saling menguatkan.
Hidayah itu adalah berupa akal, petunjuknya yaitu hasil dari upaya mengerahkan akal pikiran (to research) yang mana akal ini selalu bertentangan dengan nafsu dan tradisi juga prasangka. Kenapa pada masa-masa abad ke-8 Islam mengalami masa keemasan?. Karena pada masa itu kebudayaan/tradisi orang-orang muslim memahami al-Qur’an dengan berpikir/akal pikiran.
Segala sesuatu didunia ini semua akan berubah kecuali satu, yaitu perubahan itu sendiri. Ilmu pengetahuan menuntut analisis data, menganalisis itu membutuhkan instrument lain yaitu dengan logika. Mengamati dan menganalisis yaitu kerja sebuah ilmu pengetahuan. Mengamati: Panca indera (melihat, mendengar) dan Menganalisis: Logika/akal.
Metode dalam al-Qur’an jangan mengikuti Ide tanpa melakukan pengamatan/analisis terlebih dahulu.

B. Penjelasan Tentang Topik
Hubungan akal dan wahyu tidak dianggap sebagai bertentangan, melainkan saling melengkapi satu sama lain. Akal mempunyai pandangan kehidupan yang lengkap, akan tetapi pikiran yang dicerahkan oleh wahyu akan melihat realitas kehidupan itu tidak terbagi-bagi.
Menurut Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam (1980). Bahwa dalam ajaran Islam akal mempunyai kedudukan yang tinggi dan banyak dipakai, bukan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan saja, tetapi juga dalam perkembangan ajaran keagamaan sendiri. Akal tidak pernah membatalkan wahyu, akal tetap tunduk kepada teks wahyu. Teks wahyu tetap mutlak dianggap benar. Akal hanya dipakai untuk memahami teks wahyu dan sekali-kali tidak untuk menentang. Akal hanya memberi interpretasi terhadap teks wahyu sesuai dengan kecenderungan dan kesanggupan pemberi interpretasi.
Masalah akal dan wahyu merupakan tema pokok dalam teologi Islam karena menyangkut sikap dan metode berpikir setiap aliran teologi. Terdapat empat hal yang berkaitan dengan akal dan wahyu, yaitu: (1) mengetahui Tuhan (husnul ma’rifat Allah), (2) kewajiban mengetahui Tuhan (wujub ma’rifat Allah), (3) nilai baik dan jahat (ma’rifat ul-husn wa al-qubh), dan (4) kewajiban mengerjakan yang baik dan menjauhi yang jahat atau buruk (wujub al-hasan wa ijtinab al-qabih).

C. Pernyataan Tesis
Kata Harun, muktazilah sebagai aliran yang paling rasional dan mengakui kemampuan akal. Bagi mereka, segala bentuk pengetahuan dapat diperoleh dengan kekuatan akal, dan kewajiban-kewajiban dapat diketahui dengan pemikiran yang mendalam. Dengan demikian, akal sudah mengetahui adanya Tuhan sebelum turun wahyu, dan karena itu pula akal sudah tahu perlunya berterima kasih kepada Tuhan sebelum turun wahyu.
Dalam hal ini Abu Huzail berpendapat bahwa sebelum turun wahyu, orang telah berkewajiban mengetahui Tuhan dengan akalnya dan begitu pula jika dia tidak berterima kasih kepada-Nya, dia akan diberi hukuman. Baik dan jahat, menurutnya dapat juga diketahui dengan kekuatan akal dan dengan demikian orang wajib mengerjakan yang baik, umpamanya bersikap lurus dan adil, dan wajib menjauhi yang jahat seperti berdusta dan berbuat dzalim. Lebih ekstrim lagi, golongan al-Muhdar berpendapat bahwa orang yang tidak mengetahui Tuhan dan tidak berterima kasih kepada-Nya serta tidak pula mengetahui hukum-hukum-Nya niscaya akan kekal dalam neraka.
PEMBAHASAN
A. Definisi Akal dan Wahyu
Kata akal berasal dari bahasa Arab العقل , dalam kamus bahasa Arab kata ‘aql berarti mengikat atau menahan. Pengikat serban misalnya, disebut; ‘iqal, menahan orang dipenjara disebut; i’taqal, orang yang dapat menahan amarahnya disebut ‘aqil. Dalam al-Qur’an, kata ‘aql hanya terdapat dalam bentuk kata kerja, misalnya ‘aqolu, ta’qilun, na’qil, ya’qiluna, dan ya’qiluha, yang semuanya mengandung arti paham atau mengerti. Akal dalam arti demikian itu, menurut al-Qur’an tidaklah melalui otak yang berpusat dikepala, tetapi melalui kalbu (QS. Al-A’raaf : 179) dan (QS. Al-Hajj: 46). Dengan demikian, Harun Nasution punya pemahaman bahwa pengertian akal menurut filsafat Yunani yang disebut nous.
Dalam pengertian nous, daya berpikir itu terdapat dalam jiwa yang berpusat di otak. Sedangkan, kata wahyu berarti suara, bisikan, dan isyarat yang merupakan pemberitahuan tersembunyi, rahasia, dan selintas kilat. Tetapi secara syar’i, pengertian wahyu adalah perkataan Tuhan yang disampaikan kepada nabi-nabi-Nya. Dalam Islam, wahyu atau sabda Tuhan yang disampaikan kepada Nabi Muhammad terkumpul dalam al-Qur’an. Wahyu adalah teks Arab dalam al-Qur’an itu sendiri. Jika susunan katanya diubah atau diganti dengan sinonimnya, kata Harun; itu tidak wahyu lagi, akan tetapi sudah merupakan penafsiran hasil ijtihad dan nalar manusia.
Terminologi lainnya tentang akal, baik dalam konteks filsafat maupun bidang ilmu lainnya memiliki fungsi dan makna yang beragam. Makna akal Paling populer diantaranya adalah “kemampuan khas manusia dalam membedakan baik dan buruk; mana jalan dan mana jurang”. Adapun dalam pembahasan ini, persoalan akal dan wahyu lebih difokuskan pada tingkat kemampuan dalam kelemahan epistemologis akal dalam ranah agama. Baik akal maupun wahyu merupakan sumber pengetahuan. Bedanya akal bersifat umum, sementara wahyu bersifat khusus (untuk kalangan tertentu). Point yang perlu ditambahkan disini, adakalanya akal didefinisikan sebagai daya yang darinya pengetahuan-pengetahuan itu berasal, dan adakalanya terutama dalam bahasa Arab; dipandang dalam bentuk masdarnya (asal kata), yakni kegiatan berpikir dan mengggunakan akal. Kata akal juga terkadang diartikan dalam masdar akusatif (maf’uli, objek), yakni pengetahuan-pengetahuan yang diserap dan dipikirkan. Dengan demikian, hubungan antara akal dan wahyu ditafsirkan sebagai relasi antara pengetahuan aklani dan pengetahuan wahyuni.

B. Bukti- Bukti Al-Qur’an Tidak Bertentangan Dengan Akal
Apabila kita memperhatikan al-Qur’an dengan tinjauan yang menyelidik, akan kita dapati bahwa sesungguhnya ia mengarahkan akal manusia untuk mempergunakan metode yang lengkap dalam mencari hakikat.
Adapun metode ini mempunyai dua cara, yaitu:
a. Dengan cara pertama, al-Qur’an membuang dari manusia taklid, agar dapat membebaskan akalnya dari belenggu taklid itu.
b. Dengan cara kedua, al-Qur’an menampilkan rupa alam dan maujudnya; hubungannya dengan alam dan peranannya dalam alam itu, darimana dia akan sampai kepada keimanan dengannwujud Khaliq.
Pembuangan Taklid
Pada dasarnya al-Qur’an mengajak manusia agar membebaskan pikirannya benar-benar dari pendapat aliran-aliran lama yang turun temurun. Dalam hal ini, terdapat syarat dari al-Qur’an:
واذاقيل لهم اتبعوا ما انزل الله قالو بل نتبع ما الفينا عليه اباءنا اولو كان اباؤهم لايعقلون شيأ ولا يهتدون
(البقرة : ١٧٠)
“Apabila orang berkata kepada mereka; Ikutlah kitab yang diturunkan kepada Allah! Mereka menjawab; Tidak! Bahkan kami akan mengikuti apa yang kami dapati ayah-ayah kami mengerjakannya. Apakah juga kalau ayah-ayah mereka tidak memikirkan sesuatu dan tidak dapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah : 170).
al-Qur’an menjadikan ilmu satu-satunya, bukan taklid. Sebagai jalan yang akan sampai kepada kepercayaan manusia yang sebenarnya, dimana mereka harus bekerja sesuai dengan ketentuan-ketentuan jalan itu. Seperti yang diisyaratkan al-Qur’an:
ولاتقف ما ليس لك به علم ان السمع والبصر والفؤاد كل اولئك كان عنه مسؤلا. (الاسراء: ٣٦)
“Dan janganlah engkau berpegang kepada sesuatu, dimana engkau tiada mempunyai pengetahuan tentang itu. Sesungguhnya telinga, mata, dan hati semuanya nanti akan ditanya.” (QS. Al-Isra: 36).
Ada sebuah ayat lagi yang berkaitan dengan hal ini:
قل هل عندكم من علم فتخررجهوه ان تتبعوان الا الظن . (الانعام : ١٤٨)
“Katakanlah: adakah pada kamu ilmu pengetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada kami? Tidak lain yang kamu ikut itu, melainkan purbasangka saja”. (QS. Al-An’am: 148).
Penampilan Rupa Alam
Apabila kita memperhatikan dengan teliti, ternyata arah al-Qur’an (khitab) pada asasnya ditujukan kepada akal sehat dengan amat jelas, begitupun ditujukan kepada hati yang suci dengan ringkas tegas. Apabila seorang manusia berhasil mengutip manfaat dari alam dengan metode ilmu pengetahuan, yang merupakan kepercayaan agamanya dan keinginannya untuk mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai keberhasilan mendapat pahala akhirat, maka hasilnya itu adalah keberhasilan yang hakikatnya mencapai sasaran. Terhadap pengertian ini terdapat di firman Allah:
اولم ينظروا في ملكوت السموات والارض وما خلق الله من شيئ وان عسى ان يكون قداقترب اجلهم فبأي حديث بعده يؤمنون . (الاعراف : ١٨٥)
“Apakah mereka tidak memperhatikan keadaaan dalam kerajaan Langit dan kerajaan Bumi dan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah? Dan siapa tahu, barangkali ajal mereka telah dekat. Karena itu dengan peristiwa itu mereka akan beriman?” (QS. Al-A’raf : 185).
Disini kita lihat, bahwa mengetahui ilmu pengetahuan tentang berbagai mahluk sebagian dari amal shalih yang paling utama, yang akan diperhitungkan nanti dalam timbangannya di akhirat. Karena itu, menjadi kewajiban manusia agar mengorbankan seluruh kesungguhannya untuk menggali kekayaan alam dan menyelami rahasia-rahasianya. Tujuan mempergunakan akal untuk memastikan adanya wujud Pencipta Yang Bijaksana, dengan jalan mempelajari kegaiban alam yang tidak dapat ditafsirkan oleh kebetulan. Apabila proses pengenalan ciptaan terjadi dengan sempurna, maka sempurnalah pengenalan Penciptanya, Demikian menurut pendapat Ibnu Rusyd. Maka dengan ini, berkumpulah ilmu dengan iman. Perhatikan ayat di bawah ini:
ان في خلق السموات ولارض واختلاف اليل والنهار لايت لاولى الالباب. الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم ويتفكرون في الخلق السموات والارض ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار
(العمران: ١٩٠-١٩١)
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan peredaran malam dan siang, terpampang ayat-ayat bagi orang-orang yang mempunyai mata hati, yang berdzikir menyebut Allah waktu berdiri dan duduk serta waktu tidur, dan memikirkan tentang hal penciptaan langit dan bumi. Oh Tuhan kami, tidaklah semua ini Engkau ciptakan sia-sia. Mahasuci Engkau, karena itu hindarilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Imran : 190-191).
Sebagian penyelidik kadang-kadang berhentri pada marhalah pertama, yaitu marhalah ilmu, dan mereka tidak melewatinya menuju marhalah kedua, yaitu marhalah keimanan. Mereka itu hanya mengetahui kulit kehidupan dunia ini, dan mereka lupa akan kehidupan akhirat.
Sesungguhnya mereka setelah sampai dipertengahan jalan dan kemudian keluputan tujuan dan jauh dari penyelidikan tentang ayat-ayat Allah dalam alam, sehingga dengan sebab demikian mereka terasing dari hakikat; terkurung dalam daerah benda, dimana mereka tidak sanggup lagi keluar dari dalamnya menuju ke dunia yang lebih luas, karena mereka mengutamakan keuntungan sekarang daripada keuntungan nanti, mereka sibuk dengan jalan dan lupa tujuan hanya sekedar itulah pencapaian ilmu mereka.
Tamsil Ibarat dalam Al-Qur’an
فاما الزبد فيذهب جفاء, واما ماينفع الناس فيمكث في الارض كذلك يضرب الله الامثال. (الرعد : ١٧)
“Adapun buih akan hilang berterbangan, sementara yang berguna untuk manusia akan tinggal dibumi. Demikianlah caranya Allah mengambil tamsil-ibarat.” (QS. Ar-Ra’du :17).
Az-Zubdu (buih) yaitu yang mengapung di permukaan air laksana kotoran yang bercampur dengan benda-benda ringan yang terapung diatas logam waktu dilebur dan menjadi cairan sehingga menjadi terpisah-pisah.
Dalam tamsil ibarat (matsal) al-Qur’an menegaskan kepada kita antara kebenaran dan kebathilan. Kemenangan hanya pada kebenaran, kebaikan, dan amal shalih. Karena itu, kebenaran akan slalu menang atas lawan-lawannya yang terdiri dari kejahatan, kebathilan dan orang-orang yang merusak bumi.
Demikianlah perbandingannya kebenaran dan kebathilan ini semua adalah rintangan-rintangan yang selalu yang dihadapkan kepada kita. Semua orang yang telah berhasil dalam kehidupan ini pada hakikatnya adalah sejarah amal yang tidak mengenal lelah. Sejarah kesungguhan yang tidak mengenal putus asa.
وماخلقنا السموات والارض وما بينهما الا بالحق. (الحجر : ٨٥)
“Tidaklah kami jadikan langit dan bumi serta alam yang terletak diantara keduanya, melainkan dengan kebenaran.” (QS. Al-Hijr :85).
Kebenaran tidak akan lenyap dan kebathilan tidak akan abadi, amal yang berguna tidak akan sia-sia. Inilah hikmah al-Qur’an dan hakikat kehidupan serta pengalaman dunia.
C. Peran Agama dan Ilmu Pengetahuan
Kajian ilmu dan agama dapat digolongkan sebagai tema akal dan wahyu. Sebagaimana yang telah disinggung, akal dalam pembahasan ini adalah seluruh pengetahuan umum manusia, termasuk pengetahuan empiris dan eksperimental. Hubungan ilmu dan agama merupakan salah satu topik kunci dalam filsafat agama dan teologi di era modern. Hingga kini kemajuan sains telah membuka cakrawala baru dan menganugerahkan pengenalan baru terhadap dunia sekitar.
Rasionalisme merupakan istilah umum untuk seluruh sistem pemikiran dan filsafat yang menekankan peran penting akal dalam setiap bidang ilmu. Istilah ini memiliki makna tersendiri, seperti makna Rasionalisme vis-a-vis Intuitivisme, berbeda dengan makna Rasionalisme Empirisme.
Rasionalisme dimaknai sebagai aliran filsafat yang menyakini prinsip-prinsip rasional dan aksioma-aksioma bawaan (innate idea) sebagai sumber pengetahuan, bukan pengalaman-pengalaman indrawi. Descartes (1596-1650 M), Leibnitz (1646-1716 M), dan Spinoza (1632-1677 M) termasuk tokoh-tokoh utama Rasionalisme Barat. Dalam konteks ini yang berhubungan dengan tokoh-tokoh diatas yaitu, Rasionalisme berhadapan dengan Empirisme yang menyakini sumber pengetahuan hanyalah indra dan pengalaman, seraya mengingkari aksioma-aksioma bawaan prapengalaman (apriori). Locke (1632-1704 M), Berkeley (1685-1753 M), dan Hume (1711-1776 M) adalah filsuf terkemuka Empiris.
Dalam ranah filsafat agama dan teologi, rasionalisme merujuk pada madzhab pemikiran yang menghargai peran akal dan perolehan ilmu lainnya yang vis-a-vis pengetahuan wahyuni. Penghargaan pada akal memiliki sejumlah tingkatan. Karena itu, rasionalisme dalam pengertian ini memiliki cakupan yang luas; mulai dari kaum rasionalis radikal dan antiagama, hingga kaum rasionalis moderat dan proagama. Rasionalisme dalam pengertian konteks ini adakalanya berhadapan dengan kaum Literalis; yang membeku dalam teks agama serta menyakini pemikiran manusia tak mampu merasionalisasi sekian banyak ajaran agama. Dalam kondisi lain, yang berkonfrontasi dengan rasionalisme diisi oleh Fideisme; sebuah paham yang gigih agamanya dengan akal. Namun sebaliknya percaya bahwa agama menuntut pasrah dan taklid buta, bukan menuntut pengakuan yang rasional dan logis.
Maksud Rasionalisme dalam sub tema ini pada istilah kedua. Dengan demikian, istilah ini tidak beroposisi dengan Empirisme, atau bersanding dengannya.

KESIMPULAN
Wahyu adalah sumber pengetahuan bagi manusia kebenarannya bersumber dari Allah SWT kebenaran ini menjadi hak paten bagi manusia. Sedangkan akal sebuah produk manusia yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta sebagaimana perannya untuk berikhtiar dan kebenarannya bersifat relatif (bisa benar bisa salah). Keduanya Allah yang menciptakan namun berbeda sifatnya. Perbedaan perspektif dari keduanya ini yakni akal dan wahyu, sudah menjadi perbincangan sejak dahulu dan banyak dari golongan mutakallimin yang telah memperdebatkan.
Allah menganugerahkan Wahyu (al-Qur’an) kepada manusia, dengan tujuan agar manusia mengoperasikan akalnya untuk berpikir, merenungi ayat demi ayat al-Qur’an yang mana didalamnya terdapat sebuah peristiwa-peristiwa para Nabi terdahulu hingga Nabi Muhammad, hukum-hukum Allah, tentang akhlak, dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Al-qur’an menjadi petunjuk bagi manusia (mahluk yang berakal), Allah semata-semata menurunkan wahyu (al-Qur’an) untuk kemaslahatan mahlukNya, melalui perantaraan Nabi Muhammad SAW manusia yang terpilih untuk mengemban amanat dari Allah SWT untuk mensyiarkan agama Islam.
Akal dan wahyu bukanlah seperti minyak dan air yang tidak bisa disatukan. Melainkan keduanya saling menguatkan satu sama lain. Inilah sebuah perjalanan hidup, kita tidak bisa lepas dari Hablummina Allah tetapi kita tidak melupakan Hablummina an-Nas agar mendapatkan keridhoan dariNya dan menjadi akhir yang baik untuk kita semua nanti di akhirat.
DAFTAR PUSTAKA
Baljon, J.M.S, Al-Qur’an Dalam Interpretasi Modern, Penerjemah Eno Syafrudien, Jakarta: GMP, 1990.
Rusli, Ris’an, Pemikiran Teologi Islam Modern, Depok: Prenamedia, 2018.
Taftazani, Abul Wafa, Apa Sebab Al-Qur’an Tidak Bertentangan Dengan Akal, Jakarta: Bulan Bintang, 1976.
Yusufian dan Sharifi, Akal & wahyu, Jakarta: Sadra Press, 2011.

Penulisan Blog Baru Saya

Konsep Pemikiran PROF. DR. Harun Nasution Tentang: Wahyu, Akal dan Ilmu Pengetahuan

KONSEP PEMIKIRAN PROF. DR. HARUN NASUTION TENTANG:WAHYU, AKAL, DAN ILMU PENGETAHUANDisusun oleh :Siti Ella Yuliana PENDAHULUANA. Pengantar TopikMemahami realitas berdasarkan teks/nash al- Qur’an yang mengikuti tafsiran yang dibuat oleh para pendahulu (salafi) pada abad ke-7 yang dijuluki salafussholih, juga menjadikan tidak adanya pemisah atau bertolak belakang antara nash al-Qur’an dan akal pikiran manusia yang memahamiLanjutkan membaca “Konsep Pemikiran PROF. DR. Harun Nasution Tentang: Wahyu, Akal dan Ilmu Pengetahuan”

Perkenalkan Diri Anda (Contoh Pos)

Ini adalah contoh pos yang aslinya dipublikasikan sebagai bagian dari Blogging University. Ikuti salah satu dari sepuluh program kami, dan mulai buat blog dengan tepat. Anda akan memublikasikan pos hari ini. Jangan khawatir dengan tampilan blog Anda. Jangan khawatir jika Anda belum memberinya nama, atau merasa bingung. Cukup klik tombol “Pos Baru”, dan beri tahuLanjutkan membaca “Perkenalkan Diri Anda (Contoh Pos)”


Ikuti Blog Saya

Dapatkan konten baru yang dikirim langsung ke kotak masuk Anda.

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai